Skala perusahaan seperti apa yang paling rentan dengan insiden keamanan siber?
Sebuah institusi keuangan besar di Indonesia diserang ransomware dan terjadi insiden kebocoran data. Di Amerika Serikat, sebuah perusahaan teknologi mengalami kebocoran data yang berdampak ke 73 juta pelanggan.
Di sisi lain, Kaspersky menemukan 92% UMKM di Indonesia mengalami insiden siber dalam setahun terakhir, angka tertinggi ketiga di Asia Pasifik setelah Vietnam dan Malaysia.
Jadi, mana yang lebih rentan? UMKM atau enterprise besar? Jawabannya: Keduanya.
Fraud bersifat demokratis. Artinya, ia tidak memilih ukuran organisasi menjadi target selanjutnya. Fraud menyerang celah keamanan apa saja yang terbuka.
Fraud Tidak Peduli Ukuran Perusahaan
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menyampaikan hal ini dalam diskusi panel di Money 20/20 Asia 2026.
"Kejahatan siber itu demokratis, mereka tidak peduli seberapa besar institusi Anda. Mereka hanya memindai kerentanan. Semua pintu yang terbuka, akan mereka eksploitasi. Tidak peduli apakah Anda fintech kecil, startup kecil, atau bank besar sekalipun, mereka hanya mencari pintu mana saja yang bisa dibuka," jelasnya.
Ini menjelaskan bahwa pelaku fraud tidak menilai target berdasarkan skala bisnis, mereka menilai berdasarkan celah mana yang terbuka.
Sementara itu, menurut Head of Unified Platform Product Line di Kaspersky, Ilya Markelov, serangan siber yang canggih mudah menembus sistem karena pertahanannya terfragmentasi.
Sehingga bisa dikatakan bahwa baik perusahaan kecil maupun besar bisa sama-sama rentan karena meski sebab akarnya beda. Perusahaan kecil rentan karena sistem keamanan kurang lengkap, perusahaan besar juga rentan karena kompleksitas tools yang tidak terintegrasi.
Fraud-as-a-service adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini. Sekarang, pelaku fraud tinggal menyewa atau membeli alat produksi identitas palsu yang sudah tersedia, lalu menjalankan fraud sebagaimana sebuah organisasi.
Di lapangan, fraud telah berkembang menjadi industri yang terorganisir. Niki menjelaskan bahwa operasi di balik serangan semacam ini sudah dilengkapi dengan tim data science. Menurutnya, ini bukan lagi aksi satu peretas individu, melainkan sindikat yang terhubung lintas negara dan beroperasi dalam skala industri.
Ini yang membuat perbandingan skala perusahaan menjadi kurang relevan. Yang dihadapi kedua jenis bisnis ini adalah operasi kejahatan terorganisir dengan sumber daya setara industri.
Riset VIDA dalam whitepaper 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook menunjukkan seberapa cepat dan murah pergerakan fraud. Biaya membuat satu paket identitas sintetis lengkap, foto, dokumen identitas, dan biodata, turun dari sekitar 15 dolar AS pada 2022 menjadi kurang dari 0,001 dolar AS pada 2026. Ketika biaya produksi mendekati nol, bayangkan jika volume serangan menjadi tidak terbatas.
Riset VIDA juga menunjukkan bahwa waktu yang dimiliki tim keamanan untuk menghadapi ancaman AI semakin pendek. Pada 2023, tim keamanan punya sekitar 12 bulan untuk menyiapkan pertahanan sebelum muncul model AI baru yang lebih canggih. Pada 2026, waktu tersebut menyusut menjadi sekitar 2 minggu. Artinya, pertahanan yang dibangun bulan lalu bisa saja sudah tidak lagi efektif sebelum sempat diterapkan sepenuhnya.
Ini yang seharusnya mengubah cara bisnis menilai risiko. Perusahaan tidak bisa lagi menilai risiko berdasarkan skala bisnis. Karena jawabannya sudah jelas: Semuanya bisa jadi sasaran. Fokus harus bergeser menjadi membangun infrastruktur keamanan yang dapat memantau transaksi dengan melakukan verifikasi terus-menerus.
Kalau pelaku fraud mengeksploitasi celah tanpa peduli ukuran perusahaan, maka pertahanan juga harus dibangun di lapisan yang sama untuk semua ukuran bisnis.
Pertanyaan lebih lanjut, hubungi tim sales VIDA: https://vida.id/id/sales