Banyak orang mengira penipuan di internet selalu mudah dikenali. Pesannya kasar, bahasanya janggal, atau ceritanya terlalu berlebihan. Kenyataannya, sebagian besar kasus justru terasa normal. Cara penyampaiannya rapi, konteksnya masuk akal, dan sering datang di saat kita tidak menduga. Itulah sebabnya, banyak orang baru menyadari setelah uang atau data pribadinya disalahgunakan. Bukan karena kurang paham teknologi, tetapi karena polanya memang dibuat agar terlihat wajar.
Sebagian besar praktik penyesatan digital tidak dimulai dengan ancaman. Pelaku biasanya menciptakan situasi mendesak, seperti masalah akun atau permintaan bantuan. Dalam kondisi terburu-buru, orang cenderung langsung merespons tanpa sempat memeriksa ulang. Di sisi lain, interaksi digital membuat kita kehilangan konteks. Kita tidak melihat lawan bicara secara langsung, hanya berhadapan dengan nama, foto, atau nomor yang terlihat familiar.
Baca juga: Penipuan KTP Digital: Risiko Data KTP Digunakan Tanpa Sadar
Bentuknya beragam, tapi tujuannya sama: membuat korban percaya dan bertindak tanpa banyak bertanya.
Pelaku menyamar sebagai bank, e-wallet, atau institusi tertentu. Biasanya ada alasan mendesak seperti akun bermasalah atau transaksi mencurigakan yang perlu “segera ditangani”.
Korban diberi kabar menerima sesuatu yang tidak pernah diminta. Untuk mencairkannya, diminta mengisi data atau membayar biaya tertentu.
Baca juga: Manipulasi: Pengertian, Ciri-ciri, dan Alasan yang Sering Tidak Disadari
Di marketplace atau media sosial, pelaku bisa berpura-pura sebagai penjual atau pembeli. Bukti transfer dan percakapan dibuat seolah transaksi berjalan normal.
Korban diarahkan ke halaman yang menyerupai situs resmi. Informasi login atau kode verifikasi kemudian digunakan untuk mengambil alih akun.
Pesan datang dari nomor yang terlihat dikenal. Ceritanya darurat, bahasanya singkat, dan tujuannya agar korban segera mengirim uang atau data.
Karena semua terlihat masuk akal. Tidak ada satu momen yang terasa mencurigakan. Justru karena terasa familiar, proses verifikasi sering dilewati. Dalam banyak kasus, penyalahgunaan ini berkaitan dengan cara identitas seseorang digunakan di dunia digital. Isu ini dibahas lebih lanjut dalam artikel VIDA tentang Identitas Digital dan Pentingnya di Era Serba Online
Menghindari penipuan bukan berarti harus curiga berlebihan. Namun, memberi jeda sebelum merespons pesan yang mendesak bisa sangat membantu. Biasakan memeriksa ulang informasi melalui kanal resmi dan tidak langsung mengklik tautan. Jika ragu, berhenti sejenak dan minta pendapat orang lain. Keputusan yang diambil dengan tenang biasanya lebih aman.
Baca juga: Bukti Transfer Palsu: Ciri-Ciri dan Cara Agar Tidak Tertipu