BLOG | VIDA DIGITAL IDENTITY

Pengaduan Penipuan Online: Harus Gimana dan Lapor Kemana?

Written by VIDA | 2026 Feb 2 00:00:00

Menjadi korban penipuan online sering kali membuat seseorang bingung harus berbuat apa. Di satu sisi ingin segera melapor, di sisi lain tidak tahu jalur yang tepat atau takut prosesnya rumit. Padahal, pengaduan penipuan online adalah langkah penting, baik untuk menghentikan kerugian lanjutan maupun untuk mencegah korban berikutnya.

 

Di tengah meningkatnya penipuan berbasis digital, kemampuan untuk melapor dengan benar menjadi sama pentingnya dengan kewaspadaan itu sendiri.

 

Baca juga: Cara Mengatasi WhatsApp Kena Spam Penipuan

Mengapa Pengaduan Tidak Boleh Ditunda?

Penipuan online jarang berhenti pada satu kejadian. Dalam banyak kasus, data atau akses yang sudah didapat pelaku akan digunakan kembali untuk upaya lain, seperti pengambilalihan akun atau pendaftaran layanan keuangan.

 

Riset terkait account takeover menunjukkan bahwa lebih dari 60% serangan pada bisnis digital berawal dari akses tidak sah ke akun, sering kali menggunakan kredensial yang terlihat valid. Artinya, semakin cepat laporan dibuat, semakin besar peluang untuk memutus dampaknya sejak awal.

Langkah Awal yang Sebaiknya Kamu Lakukan

Sebelum membuat pengaduan resmi, ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan agar laporan lebih efektif.

 

Baca juga: Ciri-Ciri Penipuan Transfer dan Tips Menghindarinya

 

Pertama, kumpulkan semua bukti yang berkaitan dengan kejadian. Ini bisa berupa tangkapan layar percakapan, email, tautan, bukti transfer, atau notifikasi transaksi. Kedua, catat kronologi singkat kejadian, termasuk waktu dan platform yang digunakan.

 

Langkah sederhana ini sering kali menentukan apakah laporan bisa ditindaklanjuti dengan cepat atau tidak.

Kemana Pengaduan Penipuan Online Bisa Disampaikan?

Jika penipuan berkaitan dengan transaksi keuangan, segera hubungi bank atau penyedia layanan keuangan yang kamu gunakan. Banyak kasus dapat dicegah agar tidak berkembang lebih jauh jika dilaporkan pada tahap awal.

 

Baca juga: Strategi Anti Fraud: Penyelamat Dokumen dan Data

 

Selain itu, pengaduan juga dapat dilakukan melalui:

  • Kepolisian (laporan resmi)
  • Platform pengaduan siber milik pemerintah
  • Platform digital tempat penipuan terjadi (media sosial, marketplace, atau email provider)

Melapor ke beberapa pihak sekaligus bukan tindakan berlebihan, terutama jika penipuan melibatkan lebih dari satu platform.

Penipuan Semakin Beragam dan Sulit Dikenali

Saat ini, penipuan online tidak lagi hanya berbentuk pesan mencurigakan atau janji hadiah. Banyak serangan memanfaatkan phishing yang terlihat sangat meyakinkan, bahkan dikombinasikan dengan manipulasi visual dan deepfake.

 

Studi tentang deepfake menunjukkan bahwa kasus penipuan berbasis manipulasi wajah dan suara meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, seiring teknologi yang semakin mudah diakses.

 

Baca juga: Cek Nomor Penipuan: Cara Ampuh Menghindarinya di Era Digital

 

Ketika penipuan terlihat “normal”, korban sering kali baru menyadarinya setelah kerugian terjadi.

Mengapa Banyak Korban Enggan Melapor?

Salah satu alasan utama adalah anggapan bahwa laporan tidak akan ditindaklanjuti. Selain itu, sebagian korban merasa malu atau menyalahkan diri sendiri.

 

Padahal, data pengaduan sangat penting untuk memetakan pola penipuan. Tanpa laporan, jenis penipuan yang sama akan terus berulang dengan korban baru.

 

Baca juga: 10 Kasus Penipuan Digital yang Sering Mengintai Para Konsumen

 

Pengaduan penipuan online bukan hanya soal memulihkan kerugian pribadi. Ia juga berperan dalam membangun sistem digital yang lebih aman bagi semua orang. Di tengah maraknya phishing, account takeover, dan penipuan berbasis teknologi baru seperti deepfake, melapor menjadi bagian dari perlindungan bersama.

 

Jika kamu mengalami penipuan online, jangan menunda. Bertindak lebih cepat bisa membuat perbedaan besar.