BLOG | VIDA DIGITAL IDENTITY

Peretasan (Hacking): Ancaman Nyata di Era Identitas Digital

Written by VIDA | 2026 Jan 12 14:35:04

Peretasan adalah istilah yang hampir selalu muncul setiap kali terjadi kebocoran data, akun dibajak, atau uang digital berpindah tangan tanpa izin. Meski sering dibahas, banyak orang masih menganggap peretasan sebagai masalah teknis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, aktivitas digital yang kamu lakukan setiap hari justru menjadi pintu masuk utama serangan.

 

Di era identitas digital, peretasan tidak lagi selalu terlihat mencurigakan. Tidak ada sistem error, tidak ada notifikasi aneh. Semuanya berjalan normal, sampai suatu hari dampaknya benar-benar terasa.

Apa Itu Peretasan?

Secara sederhana, peretasan adalah tindakan mengakses, menggunakan, atau mengendalikan sistem digital tanpa izin pemiliknya. Sistem ini bisa berupa akun, data pribadi, aplikasi, hingga identitas digital seseorang. Dalam konteks global, peretasan juga dikenal sebagai hacking.

 

Yang sering luput disadari, peretasan tidak selalu melibatkan pembobolan sistem yang rumit. Banyak kasus justru terjadi karena manipulasi manusia, bukan karena teknologi yang lemah.

 

Peretasan terus terjadi karena dunia digital semakin saling terhubung. Satu akun sering terhubung dengan banyak layanan lain, mulai dari email hingga layanan keuangan. Ketika satu akses berhasil diambil alih, efeknya bisa menjalar ke mana-mana.

 

Di sisi lain, pelaku hacking juga terus beradaptasi. Mereka memanfaatkan teknologi baru, otomatisasi, dan AI untuk membuat serangan semakin efisien dan sulit dideteksi.

Bagaimana Peretasan Bekerja di Era Digital?

Tidak Selalu Dimulai dari Sistem

Banyak orang membayangkan peretasan selalu dimulai dari serangan ke server atau aplikasi. Kenyataannya, banyak serangan justru dimulai dari manusia. Pelaku memanfaatkan kepercayaan, rutinitas, dan kebiasaan digital pengguna. Inilah alasan mengapa korban sering merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, padahal mereka memang sedang dimanipulasi.

Peran Data Pribadi dalam Peretasan

Data pribadi adalah bahan utama peretasan modern. Nama, email, nomor ponsel, foto wajah, hingga suara bisa dikumpulkan dan digunakan untuk menyusun skenario penipuan yang sangat meyakinkan. Semakin lengkap datanya, semakin tinggi peluang keberhasilan serangan.

 

Karena itu, banyak organisasi kini mengandalkan sistem verifikasi identitas digital untuk memastikan bahwa yang mengakses layanan benar-benar pengguna asli, bukan hasil penyalahgunaan data atau identitas palsu.

Jenis-Jenis Peretasan yang Paling Sering Terjadi

Peretasan Akun

Peretasan akun terjadi ketika seseorang mengambil alih akses ke akun digital milik orang lain. Targetnya bisa email, media sosial, hingga aplikasi keuangan. Setelah berhasil, akun tersebut sering dimanfaatkan untuk penipuan lanjutan atau penyebaran serangan. Satu akun yang diretas sering membuka jalan ke akun lainnya.

Peretasan Identitas Digital

Pada jenis ini, data seseorang digunakan untuk melakukan aktivitas digital tanpa sepengetahuan pemiliknya. Contohnya membuka pinjaman online, mendaftarkan layanan, atau menyetujui transaksi penting. Peretasan identitas sering baru disadari ketika dampaknya sudah kompleks dan sulit dilacak.

Peretasan Finansial

Peretasan finansial menargetkan aset digital secara langsung. Transfer ilegal, pembobolan dompet digital, dan penyalahgunaan akun pembayaran termasuk di dalamnya. Serangan biasanya berlangsung cepat, sebelum korban sempat bereaksi. Kerugian finansial menjadi dampak yang paling terasa.

Peretasan di Era AI & Deepfake

Ketika Identitas Bisa Dipalsukan

Perkembangan AI mengubah wajah peretasan secara drastis. Dengan teknologi deepfake, wajah dan suara seseorang bisa ditiru secara realistis. Hal ini memungkinkan pelaku hacking menyamar sebagai individu terpercaya melalui video atau panggilan suara. Bagi manusia, membedakan komunikasi asli dan palsu menjadi semakin sulit.

Mengapa Deepfake Membuat Peretasan Lebih Berbahaya?

Deepfake membuat peretasan terasa lebih personal dan meyakinkan. Bukan lagi pesan teks mencurigakan, tapi suara dan wajah yang terasa familiar. Di titik ini, sistem keamanan tradisional seperti password dan OTP sering kali tidak cukup.

 

Karena itu, pendekatan keamanan mulai bergeser ke teknologi deteksi deepfake dan liveness detection untuk memastikan bahwa yang berinteraksi benar-benar manusia asli, bukan manipulasi AI.

Cara Mengurangi Risiko Peretasan

1. Gunakan Autentikasi yang Lebih Kuat

Mengandalkan password saja sudah tidak cukup. Autentikasi berlapis dan berbasis biometrik membantu memastikan bahwa akses hanya diberikan kepada pengguna yang sah. Pendekatan ini mempersulit penyamaran dan pencurian identitas. Teknologi seperti autentikasi biometrik berbasis wajah menjadi alternatif yang lebih aman dibanding metode tradisional.

2. Tingkatkan Literasi Digital

Waspadai pesan yang terlalu mendesak, permintaan data mendadak, dan instruksi di luar kebiasaan. Selalu lakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan penting. Langkah sederhana seringkali cukup untuk mencegah dampak besar. Kesadaran tetap menjadi lapisan pertahanan pertama.

Saatnya Melindungi Identitas Digital Secara Serius

Peretasan adalah ancaman digital yang terus berkembang, terutama di era AI, deepfake, dan praktik hacking modern. Ancaman ini tidak lagi terbatas pada sisi teknis, tetapi menyentuh aspek paling krusial: kepercayaan. Ketika identitas digital bisa dipalsukan, risiko menjadi semakin nyata.

 

Di sinilah pentingnya pendekatan keamanan yang lebih menyeluruh. VIDA Digital Identity menghadirkan solusi keamanan identitas yang dirancang untuk menjawab tantangan peretasan modern, mulai dari Identity Verification, Liveness & Deepfake Detection, hingga Authentication dalam satu ekosistem terintegrasi.

 

Jika identitas adalah pintu masuk utama ke dunia digital, maka melindunginya bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan.