Jakarta, 19 Februari 2026 – Ramadan adalah momen refleksi. Saat kita lebih selektif dengan apa yang kita konsumsi, lebih tenang dalam bertransaksi, dan lebih peduli pada sesama. Namun, di tengah peningkatan aktivitas digital selama Ramadan, mulai dari belanja online, donasi, pembelian tiket mudik, menyewa kendaraan atau gadget, hingga berbagi dokumen untuk kebutuhan administrasi, masih ada satu kebiasaan yang dinormalisasi: menyimpan dan membagikan dokumen pribadi sembarangan. Melalui kampanye #VIDAJagaKalian, masyarakat diajak menghentikan kebiasaan ini dan beralih ke cara yang lebih aman dalam mengelola identitas digital.
Di era digital, kebocoran data pribadi jarang bermula dari sistem yang diretas. Sering kali justru dimulai dari kebiasaan sederhana: foto KTP di galeri ponsel, scan KK tersimpan tanpa proteksi, atau dokumen penting yang diforward lewat chat tanpa kontrol. Ketika file itu tersebar, kita kehilangan kendali. Sekali bocor, data bisa digunakan berkali-kali.
“Bagi pelaku kejahatan digital, dokumen pribadi yang disimpan di galeri tanpa proteksi atau dibagikan lewat chat itu seperti bungkus gorengan yang tercecer. Mudah diambil, mudah dimanfaatkan, dan sering tidak kita sadari sudah berpindah tangan,” ujar Mukti Pradana, AVP Product Management VIDA. “Ramadan adalah momen untuk memperbaiki kebiasaan, termasuk kebiasaan digital. Kalau bisa aman, kenapa harus ambil risiko?”
Kampanye ini menyoroti dua langkah sederhana: stop normalisasi kebiasaan berisiko dan start kebiasaan aman.
Stop Normalisasi:
Satu ponsel hilang, satu akun email diretas, atau satu chat yang diteruskan tanpa izin bisa membuka pintu bagi penyalahgunaan identitas, mulai dari pendaftaran pinjaman online ilegal hingga pengambilalihan akun.
Start Doing:
Melalui VIDA App, masyarakat dapat menggunakan fitur DocsVault untuk menyimpan dokumen dalam penyimpanan terenkripsi dengan pengamanan biometrik wajah. Ketika dokumen perlu dibagikan, fitur SecureShare memungkinkan pengguna mengatur durasi akses, batas jumlah akses, hingga mencabut akses kapan saja. Dokumen tidak lagi dikirim sebagai file bebas, melainkan sebagai akses terkontrol.
“Keamanan tidak harus rumit. Kami merancang VIDA App agar masyarakat bisa tetap praktis tanpa mengorbankan keamanan. Berbagi dokumen bukan berarti berbagi kendali. Identitas adalah hak pemiliknya,” tambah Mukti.
Ramadan adalah momen perubahan. Saatnya menghentikan kebiasaan lama yang berisiko dan membangun budaya baru yang lebih aman. Karena dokumen asli yang bocor sering kali lebih berbahaya daripada dokumen palsu. Data pribadi yang tersebar sekali bisa dimanfaatkan berkali-kali.