Sebagai orang tua, kita mungkin sudah terbiasa membagikan momen liburan anak di media sosial. Berbagi foto di bandara atau tempat liburan memang wajar, namun tidak sedikit yang juga ikut membagikan boarding pass hingga kartu identitas anak saat check-in hotel.
Tahukah kamu bahwa cara melindungi data anak dimulai dari hal-hal kecil seperti ini?
Musim liburan sekolah adalah periode di mana data anak paling rentan dicuri. Bukan hanya dari media sosial, tapi juga dari formulir pendaftaran kegiatan, registrasi hotel, dan berbagai aktivitas liburan yang meminta data pribadi.
Simak artikel di bawah ini untuk mengetahui modus yang perlu diwaspadai dan bagaimana cara melindungi data anak.
Baca Juga: Langkah Mencegah Pencurian Identitas di Era Digital
Kenapa Data Anak Jadi Target Pencurian?
Alasannya mirip dengan kasus yang menyerang fresh graduate: anak-anak belum punya riwayat kredit. Identitas yang "bersih" ini justru bernilai tinggi bagi pelaku karena bisa digunakan bertahun-tahun tanpa terdeteksi.
Bedanya, pencurian data anak sering kali baru diketahui bertahun-tahun kemudian. Misalnya ketika anak sudah dewasa dan mencoba mengajukan kartu kredit atau pinjaman pertamanya, ternyata identitasnya sudah digunakan orang lain.
Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku tidak selalu orang asing. Data bisa bocor dari pihak yang kamu percaya, seperti lembaga kursus, panitia camp liburan, atau bahkan kerabat yang meminta foto dokumen anak.
Modus Pencurian Data Anak di Musim Liburan
Modus pertama adalah formulir registrasi yang berlebihan. Kegiatan liburan seperti camp, kursus, atau wahana rekreasi sering meminta data lebih dari yang diperlukan. Nama lengkap, tanggal lahir, nama sekolah, bahkan nomor identitas anak diminta dalam satu formulir tanpa penjelasan bagaimana data tersebut akan dikelola.
Modus kedua datang dari kebiasaan orang tua sendiri. Mengunggah foto yang memperlihatkan dokumen identitas anak, boarding pass, atau detail lokasi real-time di media sosial memberikan informasi yang cukup bagi pelaku untuk membangun profil identitas anak.
Modus ketiga adalah permintaan foto dokumen lewat chat. Saat mendaftarkan anak ke kegiatan, kamu mungkin diminta mengirim foto akta kelahiran atau kartu keluarga lewat WhatsApp. Sama seperti foto KTP, begitu file dikirim, kamu kehilangan kendali atas siapa yang menyimpan dan meneruskannya.
Nah, dari ketiga modus ini, pola yang sama terulang: data anak dibagikan tanpa perlindungan dan tanpa kontrol dari pemiliknya.
Cara Konvensional yang Belum Cukup
Beberapa orang tua sudah mulai sadar dan mencoba langkah pencegahan. Misalnya menutup sebagian informasi di foto dokumen sebelum dikirim, atau membatasi postingan di media sosial.
Langkah ini membantu, tapi belum menyelesaikan akar masalahnya. Ketika kamu harus mengirim dokumen anak untuk registrasi kegiatan, file tetap dikirim mentah lewat chat. Watermark bisa diedit, dan kamu tetap tidak tahu sudah berapa kali file itu diteruskan.
Yang dibutuhkan bukan sekadar kehati-hatian, tapi cara berbagi dokumen yang memberikan kamu kendali penuh sebagai orang tua.
Baca Juga: Kasus Penipuan Online Terbaru: Modus Scam Digital yang Wajib Diwaspadai
Bagaimana VIDA Melindungi Data Anak dan Keluarga
Sebagai orang tua, kamu tidak bisa menghindari situasi di mana dokumen anak harus dibagikan. Tapi kamu bisa memilih bagaimana cara membagikannya.
Pertama, amankan dokumen yang ada di HP. Berapa banyak foto akta kelahiran, kartu keluarga, atau paspor anak yang tersimpan di galeri tanpa perlindungan? Foto-foto ini bisa terbackup otomatis ke cloud, diakses aplikasi lain, atau bisa saja ikut terkirim saat berbagi album.
Fitur Upload from Gallery di VIDA App memungkinkan kamu memindahkan semua foto dokumen ini langsung ke DocsVault tanpa perlu foto ulang. Begitu masuk DocsVault, dokumen terenkripsi, dapat dikunci dengan teknologi biometrik sehingga hanya bisa diakses olehmu.
Langkah kedua adalah mengubah kebiasaan saat diminta mengirim dokumen. Misalnya panitia summer camp minta akta kelahiran anak lewat WhatsApp. Daripada kirim foto mentah, kamu bisa buat tautan SecureShare yang hanya aktif selama masa registrasi. Begitu pendaftaran selesai, cabut aksesnya. Panitia sudah dapat data yang mereka butuhkan, dan kamu tidak perlu khawatir file beredar setelahnya.
Baca Juga: Langkah Mencegah Pencurian Identitas di Era Digital
Mulai Lindungi Data Anak Kamu Sekarang
Musim liburan sekolah seharusnya jadi waktu yang menyenangkan, bukan momen di mana data anak terancam. Langkah pertama yang bisa kamu ambil adalah memindahkan semua foto dokumen anak dari galeri ponsel ke DocsVault di VIDA App.
Prosesnya hanya butuh beberapa menit lewat fitur Upload from Gallery. Setelah itu, setiap kali diminta mengirim dokumen anak, kamu bisa menggunakan SecureShare sebagai pengganti pengiriman file lewat chat.
Cara melindungi data anak bukan dengan menghindari semua aktivitas yang memerlukan dokumen. Tapi dengan memastikan bahwa setiap kali data anak dibagikan, kamu tetap punya kendali penuh atas siapa yang mengakses dan sampai kapan.