September 2026, VIDA menghadiri FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan fintech dan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, forum ini menjadi salah satu ruang penting bagi regulator, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk mengevaluasi perkembangan ekosistem digital sekaligus membahas tantangan ke depan.
Tahun ini, ada satu tantangan yang semakin sulit diabaikan: perkembangan deepfake membuat pemalsuan identitas semakin mudah dilakukan. Sementara itu, sudahkah sistem keamanan industri keuangan mampu mengimbanginya?
Semakin banyak aktivitas ekonomi yang beralih ke kanal digital. Transaksi melalui perangkat seluler juga semakin umum, termasuk di daerah dan di kalangan masyarakat serta pelaku usaha yang sebelumnya belum memiliki akses ke layanan keuangan formal.
Perkembangan ini membuka peluang yang besar. Namun, di saat yang sama, proses pembukaan akun, persetujuan transaksi, hingga penandatanganan kontrak harus dapat dilakukan secara aman dalam skala besar, tanpa selalu mengandalkan pemeriksaan langsung oleh petugas.
Selama bertahun-tahun, prosesnya relatif sederhana. Verifikasi identitas seseorang dengan memeriksa dokumennya, lalu proses transaksinya.
Pendekatan ini bekerja karena membuat identitas palsu dalam skala besar membutuhkan biaya dan upaya yang tidak sedikit. Proses pemalsuan juga cenderung lebih mudah terdeteksi.
Namun, teknologi AI membuat penipuan lebih mudah dijalankan. Siapa pun dapat membuat deepfake yang terlihat meyakinkan tanpa harus memiliki keahlian teknis khusus. Risiko deepfake semakin nyata dalam proses pembukaan akun digital. Dokumen identitas dapat dimanipulasi, sementara foto dan video palsu dapat digunakan untuk mengelabui sistem verifikasi wajah. Jika sistem tidak mampu mendeteksi manipulasi ini, pelaku dapat memanfaatkannya untuk menyalahgunakan identitas orang lain.
Bagi VIDA, hal ini menegaskan pentingnya memperkuat keamanan dalam proses pembukaan akun dan autentikasi transaksi, seiring AI membuat pemalsuan identitas semakin meyakinkan.
Dalam konteks industri keuangan, deepfake tidak terbatas pada video palsu yang terlihat realistis. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan pelaku.
1. Synthetic video memanfaatkan konten yang sepenuhnya dihasilkan atau dimanipulasi dengan AI.
2. Face swap mengganti wajah seseorang dengan wajah orang lain dalam sebuah video.
3. Video replay menggunakan rekaman verifikasi yang sudah ada untuk mengelabui sistem.
4. Injection attack memasukkan konten palsu langsung ke aliran kamera saat proses verifikasi berlangsung.
Setiap teknik membutuhkan metode deteksi yang berbeda. Seiring berkembangnya teknologi, membedakan interaksi asli dan manipulasi digital pun menjadi semakin sulit.
Namun, persoalan yang lebih mendasar bukanlah deepfake itu sendiri. Tantangannya adalah bahwa verifikasi identitas saja tidak lagi cukup untuk menentukan apakah suatu aktivitas digital dapat dipercaya.
Seseorang mungkin berhasil melewati verifikasi wajah. Namun, pemeriksaan tersebut belum tentu menjawab beberapa pertanyaan penting:
Dengan kata lain, lolos verifikasi tidak otomatis berarti seluruh aktivitas tersebut aman.
Artinya, industri perlu mengubah cara pandang terhadap keamanan. Verifikasi tidak cukup dilakukan sekali di awal, tetapi perlu diperkuat dengan beberapa lapisan pemeriksaan untuk memastikan transaksi dilakukan oleh pengguna yang sah.
Bagi nasabah, semua ini seharusnya tidak membuat proses menjadi lebih rumit. Mereka tetap bisa membuka rekening, mengajukan pinjaman, atau menandatangani dokumen seperti biasa. Bedanya, di balik layar, institusi melakukan pemeriksaan di setiap tahap. Jika ada aktivitas yang mencurigakan, proses bisa ditinjau lebih lanjut sebelum menimbulkan kerugian.
Jadi, tujuannya bukan menambah langkah bagi nasabah, melainkan memastikan keamanan tidak bergantung pada satu kali verifikasi. Setiap pemeriksaan punya peran masing-masing dan saling melengkapi.
Kebutuhan ini semakin besar seiring makin banyaknya layanan yang beralih ke digital, mulai dari keuangan dan kesehatan hingga pendidikan dan layanan publik. Semua perlu memastikan bahwa orang yang mengakses layanan memang berhak melakukannya.
Karena itu, pengembangan talenta, kejelasan regulasi, dan kolaborasi antara pemerintah, regulator, serta industri menjadi bagian penting dari agenda transformasi digital. Inovasi hanya dapat berkembang secara berkelanjutan jika kepercayaan dan keamanan dibangun sejak awal.