Mungkin kamu sudah tahu bahwa Coretax DJP sedang menjadi topik yang sering dibahas sejak administrasi perpajakan Indonesia disatukan melalui satu sistem terintegrasi. Core Tax Administration System sendiri dirancang untuk menyatukan berbagai layanan pajak yang sebelumnya tersebar.
Di tengah perubahan ini, ada juga istilah yang cukup sering membuat bingung, terutama bagi perusahaan, bendahara, atau konsultan pajak, yaitu impersonate Coretax. Banyak yang mengira ini istilah teknis IT atau bahkan memiliki arti yang condong ke arah negatif.
Padahal impersonate Coretax ini memberikan fungsi sangat “praktis” karena membantu kamu dalam melakukan perpajakan.
Di bawah ini kamu akan menemukan informasi lengkap seputar istilah impersonate Coretax, cara impersonate Coretax, hingga langkah untuk memastikan keamanannya.
Baca juga: Panduan Coretax: Semua yang Wajib Pajak Perlu Tahu
Secara sederhana, impersonate Coretax adalah fitur untuk “bertindak mewakili” (act on behalf) Wajib Pajak Badan/entitas di dalam Coretax, dengan menggunakan akun perwakilan yang punya kewenangan.
Konsepnya mirip ketika pekerjaan pajak perusahaan tidak selalu dikerjakan langsung oleh direktur, tetapi bisa dilakukan oleh PIC pajak, bendahara, staf finance, atau konsultan pajak, namun tetap harus tercatat siapa yang melakukan aksi dan dalam kapasitas apa.
Sesuai penjelasan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), fitur impersonate ini dirancang untuk mendukung tata kelola dan pengendalian internal dalam administrasi perpajakan digital. DJP dapat memastikan bahwa setiap aktivitas di Coretax dilakukan oleh pihak dengan kewenangan resmi, bukan sekadar hasil berbagi akun atau penggunaan identitas yang tidak sah.
Seluruh tindakan yang dilakukan melalui impersonate juga tercatat dalam jejak audit (audit trail), memudahkan pengawasan dan penelusuran apabila ada kesalahan, sengketa, atau indikasi penyalahgunaan. Intinya, fitur ini membantu kamu meminimalkan risiko fraud dan meningkatkan akuntabilitas Wajib Pajak Badan dalam mengelola kewajiban perpajakannya.
Dalam skenario seperti ini, fitur impersonate membantu agar proses berjalan efisien tanpa “pinjam akun”, tanpa berbagi password, dan tanpa kehilangan jejak siapa yang melakukan tindakan.
Alur detail bisa berbeda tergantung peran/akses yang diberikan di Coretax, tetapi gambaran prosesnya umumnya seperti berikut (mengacu pada panduan role/impersonate WP Badan yang dipublikasikan DJP):
Masuk ke akun Coretax menggunakan identitas yang terdaftar (akun perwakilan/PIC/konsultan yang memang diberikan kewenangan).
Setelah login, cari opsi pemilihan profil/entitas (biasanya berupa pilihan akun/daftar entitas). Di tahap ini, kamu memilih perusahaan/entitas yang akan dikelola.
Sistem akan mengalihkan konteks kerja kamu dari akun pribadi/perwakilan menjadi bertindak atas nama WP Badan, sehingga aktivitas yang kamu lakukan tercatat dalam konteks entitas tersebut.
Coretax juga mengenal pengaturan role/hak akses untuk WP Badan (misalnya siapa yang bisa input vs approve). Pastikan role kamu sesuai kebutuhan kerja, tidak berlebihan, dan mudah diaudit.
Sekarang kamu sudah paham bagaimana impersonate Coretax berkaitan langsung dengan kewenangan untuk bertindak mewakili entitas, sehingga aspek kontrol dan keamanan menjadi hal yang sangat krusial.
Melihat dari fungsinya tersebut, tidak sedikit Wajib Pajak atau pihak perwakilan yang masih ragu menggunakan impersonate Coretax karena khawatir soal penyalahgunaan akses, kesalahan tindakan, atau risiko keamanan data.
Padahal, jika digunakan sesuai ketentuan dan dengan pengaturan yang tepat, fitur ini justru sangat membantu dalam memberikan kontrol yang lebih jelas dibandingkan praktik lama seperti berbagi akun.
Berikut 3 hal yang bisa kamu perhatikan supaya penggunaan impersonate Coretax tetap aman dan tertib, terutama bagi pengguna pemula:
Berikan role yang sesuai tugas. Orang yang hanya input tidak perlu akses untuk submit/approve. Semakin sempit akses yang diberikan, semakin kecil risiko kesalahan atau penyalahgunaan.
Hindari praktik berbagi password akun Coretax antar tim. Selain berisiko, ini membuat audit trail sulit dipertanggungjawabkan. Coretax sendiri menekankan pengamanan akses dan penggunaan mekanisme autentikasi/sertifikat sesuai kebutuhan layanan.
Untuk perusahaan, buat kebijakan internal: siapa PIC, siapa reviewer, siapa approver, kapan akses diberikan/dicabut. Ini membantu saat ada rotasi karyawan atau pergantian konsultan.
Baca juga: Cara Lapor PPN di Coretax: Panduan Lengkap untuk Pengusaha Kena Pajak
Pada praktiknya, impersonate Coretax adalah fitur yang berperan sebagai “jembatan” supaya pekerjaan pajak WP Badan tetap bisa dijalankan oleh perwakilan yang sah, tertib, dan minim resiko administratif seperti fraud.
Nah, ketika dokumen dan proses perpajakan semakin digital, keabsahan tindakan juga makin bergantung pada identitas, kewenangan, dan jejak audit. Karena itu, selain memahami cara impersonate Coretax, penting juga memahami ekosistem autentikasi dokumen pajak.
Misalnya saja penggunaan sertifikat elektronik/tanda tangan digital tersertifikasi untuk kebutuhan tertentu, yang secara regulasi memiliki penguatan legal ketika diterbitkan PSrE tersertifikasi negara.
Oleh karena itu, pastikan kamu memahami dengan jelas hal-hal tentang Coretax dan selalu jaga keamanan dalam perpajakan.