Kamu mungkin sudah sering dengar istilah job hopping. Pindah kerja setiap satu atau dua tahun kini bukan lagi dianggap sebagai ketidakloyalan, tapi strategi karier yang sah, terutama di kalangan generasi muda.
Gaji naik, pengalaman bertambah, jaringan meluas. Tapi ada satu hal yang jarang dibicarakan: apa yang terjadi dengan data pribadi yang sudah telanjur diserahkan ke perusahaan lama?
Setiap kali masuk ke perusahaan baru, kamu menyerahkan KTP, NPWP, rekening bank, BPJS, bahkan ijazah. Semakin sering kamu pindah kerja, semakin banyak salinan data pribadimu tersebar di tempat-tempat yang sudah tidak lagi kamu pantau.
Baca Juga: Cari Kerja Online? 3 Cara Lindungi Data Pribadi dan Identitas Digital
Apa Itu Job Hopping?
Job hopping adalah kebiasaan berpindah tempat kerja dalam jangka waktu relatif singkat, biasanya kurang dari dua tahun di setiap perusahaan. Fenomena ini semakin lazim di Indonesia, terutama di kalangan milenial dan Gen Z yang melihat perpindahan kerja sebagai cara mengejar kenaikan kompensasi, lingkungan yang lebih sehat, atau pengembangan skill yang lebih cepat.
Dari sisi karier, job hopping punya banyak sisi positif. Tapi dari sisi keamanan data pribadi, setiap perpindahan meninggalkan jejak yang jarang disadari. Dan semakin sering kamu pindah, semakin panjang jejak itu.
Setiap Pindah Kerja, Data Pribadimu Ikut Tertinggal
Coba hitung, kalau dalam lima tahun terakhir kamu sudah bekerja di tiga perusahaan, berarti ada minimal tiga tempat yang menyimpan salinan KTP, data rekening bank, dan nomor NPWP kamu.
Dokumen ini biasanya diserahkan saat onboarding. HR meminta, kamu kirim via email atau WhatsApp, selesai. Tapi pernahkah kamu berpikir apa yang terjadi dengan file itu setelah kamu resign?
Sebagian besar perusahaan menyimpan data mantan karyawan dalam jangka waktu yang tidak menentu. Ada yang di server internal, ada yang masih mengambang di thread email HR, ada yang tersimpan di folder Google Drive bersama yang aksesnya tidak pernah di-review ulang.
Risiko di Balik Jejak Data yang Tersebar
Nah, di sinilah masalahnya. Data yang tersebar di banyak tempat berarti risiko kebocoran juga berlipat.
Bayangkan salah satu perusahaan lama kamu mengalami insiden kebocoran data. File HR yang berisi KTP dan rekening seluruh karyawan, termasuk mantan karyawan, bisa ikut terekspos. Kamu sudah tidak bekerja di sana, tapi data kamu masih jadi korban.
Dengan salinan KTP dan NPWP yang cukup, seseorang bisa mengajukan pinjaman online atau membuat akun di platform tertentu atas nama kamu. Dan kalau kamu sudah pindah kerja berkali-kali, melacak dari mana sumber kebocoran itu hampir mustahil.
Belum lagi dokumen yang dikirim via WhatsApp. File tersimpan otomatis di galeri HP penerima, bisa ter-backup ke cloud, dan praktis tidak bisa ditarik kembali setelah dikirim.
Pindah Kerja Boleh, Tapi Jangan Tinggalkan Ini Sembarangan
Kabar baiknya, kamu tidak harus berhenti job hopping untuk melindungi data pribadimu. Yang perlu berubah adalah cara kamu mengelola dan membagikan dokumen sensitif.
Pertama, jangan kirim dokumen identitas sebelum waktunya. KTP, NPWP, dan rekening bank biasanya baru diperlukan saat tahap onboarding, bukan di awal rekrutmen. Kalau diminta lebih awal, tanyakan dulu untuk apa.
Kedua, hindari mengirim lewat jalur yang tidak bisa kamu kontrol. Email dan WhatsApp memang praktis, tapi begitu file terkirim, kamu kehilangan kendali sepenuhnya. File bisa di-forward, di-download, dan disimpan di mana saja.
Ketiga, minta konfirmasi penghapusan data saat resign. UU Perlindungan Data Pribadi memberikan dasar hukum untuk permintaan ini. Mungkin terdengar tidak lazim, tapi kamu punya hak untuk menanyakannya.
Keempat, simpan dokumen penting di satu tempat yang aman, bukan di galeri HP. Dengan begitu, setiap kali butuh mengirim dokumen ke perusahaan baru, kamu mengirim dari sumber yang terkontrol.
Baca Juga: Penyalahgunaan Data KTP untuk Pinjol dan Cara Mencegahnya
Harus Kirim Dokumen ke HRD Baru? Pastikan Lewat Jalur Aman
Kalau memang harus mengirim dokumen sensitif ke perusahaan baru, pastikan kamu menggunakan platform yang memberi kontrol penuh atas siapa yang bisa mengakses dan sampai kapan. VIDA App bisa jadi solusi untuk kebutuhan ini.
SecureShare dari VIDA memungkinkan kamu mengirim dokumen lewat link yang bisa diatur masa aktifnya, dibatasi aksesnya, dan dicabut kapan saja. Jadi kalau proses rekrutmen batal, dokumen kamu tidak terus tersimpan di inbox HR selamanya.
Untuk penyimpanan sehari-hari, DocsVault di VIDA App menjadi satu tempat terenkripsi untuk semua dokumen pentingmu. Setiap kali pindah kerja, tinggal share dari DocsVault lewat SecureShare tanpa harus foto ulang atau cari-cari file lama di galeri. Dengan job hopping yang makin jadi bagian dari perjalanan karier, melindungi data pribadi di setiap perpindahan bukan hal yang bisa ditunda.