Pernahkah kamu berpikir bahwa data di profil LinkedIn atau portal lowongan kerja bisa diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab? Proses ini disebut scraping data, dan korbannya bukan cuma perusahaan besar. Pelamar kerja seperti kamu juga bisa jadi target.
Setiap kali kamu mengisi formulir lamaran, mengunggah CV, atau memperbarui profil di platform pencari kerja, kamu sebenarnya sedang menyebarkan data pribadi ke ruang digital yang tidak sepenuhnya kamu kontrol. Nama lengkap, email, nomor telepon, riwayat kerja, bahkan foto, semuanya bisa dikumpulkan secara otomatis oleh siapa saja yang tahu caranya.
Artikel ini membahas apa itu scraping data, bagaimana prosesnya bisa terjadi pada pelamar kerja, dan langkah yang bisa kamu ambil untuk melindungi diri.
Baca Juga: Ciri Lowongan Kerja Palsu dan Cara VIDA Lindungi Datamu
Apa Itu Scraping Data?
Jadi, apa itu scraping? Sederhananya, data scraping adalah teknik pengambilan informasi dari website secara otomatis menggunakan script atau software tertentu. Bayangkan seseorang yang menyalin isi ratusan halaman website dalam hitungan menit tanpa harus membukanya satu per satu. Itulah kurang lebih yang dilakukan oleh tools scraping.
Web scraping adalah metode yang sebenarnya tidak selalu ilegal. Banyak perusahaan menggunakannya untuk riset pasar, analisis kompetitor, atau pengumpulan data publik. Masalahnya dimulai ketika teknik ini digunakan untuk mengambil data pribadi tanpa izin, termasuk data pelamar kerja.
Yang membuat scraping berbahaya bagi pencari kerja adalah kenyataan bahwa sebagian besar informasi di profil profesional memang bersifat publik. Kamu sengaja menampilkannya supaya recruiter bisa menemukan kamu. Di sisi lain, keterbukaan juga membuka pintu bagi pihak yang punya niat berbeda.
Bagaimana Data Pelamar Kerja Bisa Di-Scraping?
Nah, supaya lebih jelas, begini alur sederhana bagaimana data kamu sebagai pelamar kerja bisa berpindah tangan tanpa kamu sadari.
Pertama, kamu membuat profil di LinkedIn atau portal lowongan kerja. Kamu mengisi data selengkap mungkin: nama, foto, email, nomor HP, pendidikan, pengalaman kerja, bahkan kadang alamat rumah. Semua ini kamu lakukan supaya profil kamu menarik di mata recruiter.
Kedua, scraper mengumpulkan data dari profil-profil publik. Tools otomatis menelusuri halaman demi halaman, mengekstrak informasi dari ribuan profil sekaligus. Kamu tidak akan menerima notifikasi apa pun karena scraper hanya "membaca" data yang memang sudah terpampang di halaman publik.
Ketiga, data yang sudah terkumpul disusun menjadi database. Nama, email, nomor telepon, posisi kerja, dan lokasi kamu dikompilasi bersama data ribuan orang lain. Database ini kemudian bisa dijual, dibagikan, atau digunakan langsung untuk berbagai keperluan.
Keempat, data kamu dimanfaatkan. Bisa untuk email phishing yang terlihat sangat personal karena pengirimnya sudah tahu nama, posisi, dan perusahaan kamu. Bisa juga untuk lowongan kerja palsu yang meyakinkan karena menggunakan data asli dari profil kamu. Atau yang paling berisiko, pencurian identitas.
LinkedIn sendiri pernah mengalami insiden scraping massal yang mengakibatkan data ratusan juta profil pengguna tersebar di forum-forum gelap. Kasus ini bukan satu kali terjadi, tapi berulang dalam beberapa tahun terakhir. Portal lowongan kerja lokal pun tidak kebal dari risiko serupa.
Risiko yang Mengintai Pelamar Kerja
Mungkin kamu berpikir, "Data di profil kan memang publik, apa masalahnya?" Masalahnya ada pada skala dan konteks penggunaannya.
Dengan nama lengkap, email, nomor HP, dan riwayat pekerjaan, pelaku bisa membuat profil palsu atas nama kamu. Profil ini bisa digunakan untuk menipu orang lain, mengajukan pinjaman, atau membuat akun di platform tertentu tanpa sepengetahuan kamu.
Yang tidak kalah berbahaya adalah phishing yang sangat targeted. Berbeda dari email spam biasa yang mudah dikenali, phishing berbasis data scraping bisa sangat meyakinkan. Pelaku tahu kamu sedang mencari kerja, tahu posisi apa yang kamu incar, dan bisa mengirim email seolah-olah dari perusahaan yang sedang kamu lamar.
Data dari profil kamu juga bisa dipakai untuk membuat lowongan kerja palsu yang terlihat kredibel. Begitu kamu merespons, mereka meminta data tambahan yang lebih sensitif: KTP, rekening bank, bahkan NPWP. Semuanya dengan dalih "proses onboarding."
Dan yang sering dilupakan adalah jejak digital permanen. Sekali data kamu masuk ke database hasil scraping, hampir mustahil untuk menghapusnya. Data itu bisa berpindah tangan berkali-kali tanpa sepengetahuan kamu.
Langkah yang Bisa Mencegah Data Kamu Dicuri
Kabar baiknya, ada beberapa hal sederhana yang bisa kamu lakukan untuk memperkecil risiko.
Pertama, batasi informasi di profil publik. Kamu tidak harus menampilkan nomor HP atau email pribadi di profil LinkedIn. Gunakan fitur pesan bawaan platform untuk komunikasi awal dengan recruiter. Semakin sedikit data kontak yang terlihat publik, semakin kecil kemungkinan data kamu di-scraping untuk keperluan yang tidak diinginkan.
Jangan kirim dokumen identitas di tahap awal. KTP, KK, NPWP, dan dokumen sejenis biasanya baru diperlukan saat kamu sudah masuk tahap onboarding, bukan saat baru mengirim lamaran. Kalau ada lowongan yang meminta dokumen ini di awal, itu sudah jadi red flag.
Selanjutnya, cek kredibilitas perusahaan sebelum melamar. Pastikan lowongan berasal dari situs resmi perusahaan atau platform terpercaya. Lowongan yang hanya beredar via grup WhatsApp atau akun media sosial tanpa verifikasi patut dicurigai.
Kamu juga bisa gunakan email khusus untuk melamar kerja. Dengan begitu, email pribadi utama kamu tidak terekspos jika terjadi kebocoran data dari portal lowongan.
Terakhir, review pengaturan privasi secara berkala. Baik LinkedIn maupun portal lowongan biasanya punya opsi untuk mengatur siapa yang bisa melihat informasi tertentu di profil kamu. Manfaatkan fitur ini.
Baca Juga: Langkah Mencegah Pencurian Identitas di Era Digital
Harus Kirim Dokumen Sensitif? Pakai Cara Ini
Saat kamu sudah sampai di tahap yang memang mengharuskan pengiriman dokumen seperti KTP atau CV lengkap, pastikan kamu mengirimnya lewat jalur yang aman. Kamu bisa memanfaatkan platform document management seperti VIDA App.
Salah satu fiturnya, yaitu SecureShare, membantu kamu berbagi dokumen lewat link yang bisa diatur masa aktifnya, dibatasi aksesnya, dan dicabut kapan saja. Jadi kalau prosesnya batal atau kamu berubah pikiran, dokumen kamu tidak terus mengambang di inbox seseorang.
Untuk penyimpanan, DocsVault di VIDA App menyimpan semua dokumen penting kamu dalam satu tempat yang terenkripsi. Tidak perlu lagi menyimpan foto KTP atau NPWP di galeri HP yang bisa diakses siapa saja. Dengan scraping data yang makin marak menargetkan pelamar kerja, melindungi dokumen pribadi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.